Beberapa waktu lalu, saya bertanya ke seorang peserta training:
“Apa yang paling membuat Anda tidak nyaman saat menerima feedback?”
Jawabannya sederhana, tapi dalam:
“Cara penyampaiannya.”
Bukan isi feedback-nya yang jadi masalah., tapi bagaimana feedback itu diberikan.
Kenapa Feedback Sering Gagal?
Banyak orang berpikir:
- Feedback = jujur saja
- Feedback = langsung ke point
- Feedback = katakan apa adanya
Masalahnya, tanpa disadari:
- Nada jadi menghakimi
- Kata-kata terasa menyerang
- Tujuan “membangun” berubah jadi “menjatuhkan”
Akhirnya, orang bukan belajar—tapi defensif.
Mindset yang Perlu Diubah :
Feedback bukan tentang:
“Saya benar, kamu salah”
Tapi tentang:
“Saya ingin kamu berkembang”
Perbedaan mindset ini akan mengubah:
- pilihan kata
- intonasi
- bahkan energi saat berbicara
3 Prinsip Memberikan Feedback yang Efektif :

- Spesifik, Bukan Generalisasi
Jangan:
“Kamu kurang teliti”
Tapi:
“Di laporan kemarin, ada 3 data yang tidak sesuai dengan sumbernya”
Spesifik = lebih mudah diterima dan diperbaiki.
- Fokus pada Perilaku, Bukan Pribadi
Jangan:
“Kamu orangnya ceroboh”
Tapi:
“Tadi saat meeting, ada beberapa detail yang terlewat”
Perilaku bisa diubah.
Label pribadi sering melukai.
- Berikan Arah, Bukan Hanya Kritik
Feedback tanpa solusi = frustrasi.
Tambahkan:
“Next, mungkin bisa cross-check dengan data sumber sebelum submit”
Ini mengubah feedback jadi guidance.
Teknik Sederhana:
SBI (Situation – Behavior – Impact)
Contoh:
Situation: Saat meeting dengan klien kemarin…
Behavior: Kamu memotong pembicaraan beberapa kali…
Impact: sehingga klien terlihat kurang nyaman
Kadang bukan soal teknik, tapi awareness:
- Timing: jangan di depan banyak orang
- Tone: bukan menggurui, tapi mengajak
- Intention: benar-benar untuk membantu
Kesimpulan :
Feedback yang baik bukan hanya membuat orang tahu kesalahannya, tapi membuat mereka mau memperbaiki diri tanpa merasa diserang.
Peran kita sebagai leader, coach, atau partner kerja : bukan sekadar memberi tahu, tapi membantu orang lain bertumbuh.




