Ada satu hal yang sering luput ketika kita berbicara tentang coaching.
Kita terlalu banyak membicarakan apa yang harus dilakukan oleh seorang coach.
Pertanyaan apa yang harus diajukan.
Teknik apa yang digunakan.
Model coaching apa yang dipakai.
Bagaimana melakukan active listening.
Bagaimana memberikan feedback.
Bagaimana menggunakan powerful questions.
Semua itu penting.
Tetapi semakin lama saya menjalani perjalanan sebagai coach, semakin saya menyadari bahwa kualitas sebuah coaching session sering kali tidak terutama ditentukan oleh apa yang dilakukan coach, melainkan oleh siapa coach itu ketika berada di dalam sesi.
Itulah yang saya sebut sebagai Being in Coaching.
Bukan sekadar hadir secara fisik
Seorang coach bisa duduk di depan coachee selama satu jam, mendengarkan setiap kata, mencatat setiap poin, bahkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat bagus.
Tetapi belum tentu ia benar-benar hadir.
Hadir bukan sekadar mendengar.
Hadir berarti mampu berada bersama coachee tanpa terburu-buru untuk memperbaiki, menyimpulkan, mengarahkan, atau menunjukkan bahwa kita tahu jawabannya.
Ada ruang di antara satu kalimat dan kalimat berikutnya.
Ada keheningan.
Ada emosi yang belum diberi nama.
Ada sesuatu yang sebenarnya ingin dikatakan oleh coachee, tetapi belum memiliki keberanian untuk mengatakannya.
Coach yang hadir mampu tinggal di ruang itu.
Tidak buru-buru mengisinya.
Ketika coach tidak membutuhkan coachee untuk berubah
Ini mungkin salah satu paradoks terbesar dalam coaching.
Semakin kita ingin coachee berubah, semakin besar kemungkinan kita secara tidak sadar mendorong mereka untuk berubah.
Kita mulai mencari breakthrough.
Mencari insight.
Mencari action plan.
Mencari “aha moment”.
Padahal terkadang coachee tidak membutuhkan coach yang sibuk mencari jawaban.
Mereka membutuhkan seseorang yang cukup aman untuk membuat mereka berani menemukan jawabannya sendiri.
Di sinilah non-attachment menjadi penting.
Coach tidak melekat pada hasil sesi.
Tidak membutuhkan coachee untuk mengambil keputusan tertentu.
Tidak membutuhkan sesi itu terlihat sukses.
Tidak membutuhkan coachee mengatakan, “Wah, pertanyaan Anda luar biasa.”
Coach cukup hadir.
Karena ketika coach tidak lagi membutuhkan hasil tertentu, ruang coaching menjadi jauh lebih bebas.
Listening beyond the words
Dalam coaching, kita sering belajar tentang active listening.
Tetapi being dalam coaching membawa listening ke tingkat yang lebih dalam.
Kita tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan.
Kita juga memperhatikan:
Apa yang tidak dikatakan?
Apa yang berubah ketika topik tertentu muncul?
Bagaimana energi coachee berubah?
Di mana ada keraguan?
Di mana ada ketegangan?
Apa yang mungkin sedang terjadi di balik cerita yang disampaikan?
Dan yang paling penting:
Apa yang terjadi di dalam diri saya ketika saya mendengarkan semua itu?
Karena coach juga membawa dirinya sendiri ke dalam ruangan.
Prejudice.
Assumption.
Pengalaman masa lalu.
Kebutuhan untuk terlihat kompeten.
Keinginan untuk membantu.
Bahkan ego.
Jika coach tidak menyadari apa yang terjadi di dalam dirinya, sangat mudah bagi coaching session berubah menjadi ruang untuk memenuhi kebutuhan coach—bukan kebutuhan coachee.
The coach as an instrument
Saya semakin percaya bahwa seorang coach bukan hanya menggunakan tools.
Coach itu sendiri adalah instrument.
Pertanyaan kita dipengaruhi oleh kualitas awareness kita.
Listening kita dipengaruhi oleh kemampuan kita untuk hadir.
Respons kita dipengaruhi oleh kemampuan kita mengelola ego.
Dan kemampuan kita untuk menciptakan psychological safety sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita hadir sebagai manusia.
Karena itu, pengembangan seorang coach tidak berhenti ketika ia menguasai kompetensi coaching.
Ia terus berkembang ketika ia mulai bertanya:
“Who am I when I am coaching?”
Bukan hanya:
“What should I do next?”
Pertanyaan pertama membawa kita kepada Being.
Pertanyaan kedua membawa kita kepada Doing.
Keduanya diperlukan.
Tetapi kualitas Doing sangat sering lahir dari kualitas Being.
Ketika tidak ada kebutuhan untuk terlihat pintar
Salah satu perkembangan terbesar dalam perjalanan coaching saya adalah menyadari bahwa saya tidak harus selalu memiliki pertanyaan yang hebat.
Saya tidak harus selalu memberikan insight.
Saya tidak harus selalu tahu ke mana arah percakapan.
Kadang-kadang pertanyaan terbaik muncul justru ketika saya berhenti berusaha mencari pertanyaan yang “bagus”.
Saya mendengarkan.
Saya memperhatikan.
Saya penasaran.
Dan saya mempercayai proses.
Karena coaching bukan tentang menunjukkan kepada coachee betapa hebatnya seorang coach.
Coaching adalah tentang menciptakan kondisi di mana coachee dapat melihat dirinya sendiri dengan lebih jernih.
Being before Doing
Mungkin inilah yang akhirnya membuat coaching berbeda dari banyak bentuk intervensi lainnya.
Kita tidak hanya bekerja dengan apa yang dilakukan seseorang.
Kita juga bekerja dengan bagaimana seseorang hadir sebagai dirinya sendiri.
Dan ironisnya, hal yang sama berlaku untuk coach.
Sebelum bertanya:
“What question should I ask?”
Mungkin kita perlu bertanya:
“Who am I being right now?”
Apakah saya hadir?
Apakah saya benar-benar mendengarkan?
Apakah saya cukup nyaman dengan keheningan?
Apakah saya sedang mencoba menyelamatkan coachee?
Apakah saya sedang mengejar sebuah breakthrough?
Apakah saya sedang membawa agenda saya sendiri?
Atau…
bisakah saya cukup hadir untuk menemani seseorang menemukan jalannya sendiri?
Karena pada akhirnya, mungkin coaching bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan dalam sebuah sesi.
Tetapi tentang kualitas kehadiran yang kita bawa ke dalam sesi tersebut.
Sometimes, the most powerful intervention a coach can offer…
is simply being fully there.




